Ahsan Milady Al kiffanaty 28 February 2017 11:41 WIB SELASA
FALSAFAH SYAIR ALFIYAH IBNU MALIK
ALFIYAH
IBNU MALIK, siapapun akan mengetahuinya, anak kecil, orang dewasa, dan bahkan
mingkin orang yang sudah pikun pun akan ingat tatkala disebut namanya, tak terkecuali
santri yang hanya mondok musiman, demikian ini karena kemasyhurannya. Para Ulama’
mengakui Alfiyah Ibnu Malik merupakan karya yang terbaik dan terringkas bahkan
terunggul dibidang ilmu nahwu. Deretan bait ilmu nahwu yang beliau lantunkan,
ternyata bila dicermati didalamnya
terkandung kalam-kalam penuh hikmah, falsafah dan nasehat yang mampu menyentuh ruh,
jiwa hingga mendasara kedalam kalbu.
Imam
Ghozali berpendapat bahwa Alfiyah Ibnu Malik bukan merupakan kitab yang berisi
fan ilmu agama. Alfiyah akan menjadi kitab fan ilmu agama apabila digunakan sebagai
alat untuk membaca kitab-kitab agama, apabila tidak, maka kitab Alfiyah Ibnu Malik
berisi beberapa fan ke-ilmu-an.
Tulisan
ini mencoba mengupas makna yang tersirat dari bai-bait syair Alfiyah Ibnu Malik
yang didalamnya terdapat arti kiasan berupa kalam hikmah, falsafah dan nasehat
kehidupan.
مَنْ تَبَحَّرَ
فِى عِلْمٍ وَاحِدٍ تَبَحَّرَ جَمِيْعَ الْعُلُوْمِ
“Baran siapa yang
tabahur (menguasai secara mendetail dan mendalam layaknya lautan) terhadapsuatu
ilmu (nahwu shorof), maka orang itu akan (mampu) tabaur pada semua ilmu”.
Konon,
Mbah Kyai Kholil Bangkalan Madura bila ada pertanyaan, baik dalam ilmu fikih
maupun permasalahan hidup lainnya, beliau sering menjawabnya dengan nadzhom Alfiyah.
Suatu ketika, ada pertanyaan yang
diajukan kepada Mbah Kholil mengenai bagaimana hukumnya satu desa terdapat dua
sholat jumat? Maka beliau menjawabnya langsung dengan nadzhom Alfiyah :
وَفِى اخْتِيَارِ
لَا يَجِيْئُ الْـمُنْفَصِلُ إِذَا اَتَى أَنْ يَجِيْئَ الْـمُتَّصِلُ
“Dalam keadaan
ikhtiar (tidak sulit berkumpul), tidak boleh terpisah dengan melakukan jum’atan
lebih dari satu, ketika berkumpul menjadi satu itu masih memungkinkan”.
Bahkan
jawaban seperti ini sesuai dengan teks-teks kitab fikih, lalumampukan generasi
sekarang menyingkap kearifan dan luhurnya mutiara syair Alfiyah Ibnu Malik?
فَارْفَعْ بِضَمِّ وَانْصِبَنْ
فَتْحَا وَجُرّ كَسْرًا كَذِكْرُ اللهِ
عَبْدَهُ يَسُرْ
وَاجْزِمْ بِتَسْكِيْنٍ
................................................................................
“Bercita-citalah setinggi langit, dan
berteriaklah yang mulia, serta rendahkanlah hatimu. Insya Alloh ﷻ dirimu
akan mendapat kemudahan serta kebahagiaan dan mati dengan khusnul khotimah” Amin.
وَكُلُّ حَرْفٍ مُسْتَحِقُّ
لِلْبِنَا وَاْلأَصْلُ فِى الْـمَبْنِى أَنْ يُسَكَّنَ
“Setiap
individu hendaklah memilikijiwa yang kokoh, berpegang teguh pada kebenaran.dan
pada hakekatnya keteguhan seseorang tergantung pada keistiqomahan hati, karena
(banyak plin-plan merupakan ciri konyol)”
كَالْيَاءِ وَالْكَافِ
مِنِ ابْنِى أَكْرَمَكَ وَالْيَاءِ وَالْهَا مِنْ سَلِيْهِ مَا مَلَكَ
“Jadilah
istri yang menerima adanya keadaan suami, mintalah yang ia miliki, dan didiklah
anakmu sopan santun serta budi pekerti yang mulia, niscaya anakmu akan
memuliakan dirimu)”
وَكُلُّ مُضْمَرٍ لَهُ
الْبِنَا يَجِبْ وَلَفْظُ مَا جُرَّ كَلَفْظِ مَا نُصِبْ
“Setiap
rahasia itu wajib disimpan. Apabila tidak dapat menyimpannya, maka akan
diremehkan/tidak dipercaya. Namun sebaliknya, ”
لِلرَّفْعِ وَالنَّصْبِ وَجَرِّنَا
صَلَحْ كَأَعْرِفْ بِنَا فَإِنَّنَا نِلْنَا الْـمِنَحْ
“Santri
intelektual yaitu santri yang mampu mengadaptasikan diri dengan keadaan sekitarnya,
dengan reputasi fleksibel, bersama golongan elitokey, golongan menengah okey,
golongan bawahpun okey, karena itulah santri busa hidup bahagia dimanapun ia berada”
وَقَدِّمِ اْلأَخَصَّ فِى
اتِّصَالِ وَقَدِّمَنْ مَا شِئْتَ فىِ انْفِصَالِ
“Dahaulukanlah
orang yang lebih mulia didalam pangkat, derajat, maupun umur dari pada dirimu. Setelah
itu kamu boleh mendahulukan siapa saja yang kau kehendaki”
وَفِى اتِّحَادِ الرُّتْبَةِ
اَلْزِمْ فَصْلًا وَقَدْ يُـــبِــيْحُ الْغَيْبُ فِيْهِ وَصْلًا
“di dalam
mengadapi dilemacalon pendamping sebaiknya kau lepaskan salah satunya, dan
pilihlah yang sesuai dengan hatimu lewat jalan istikharah”
وَإِنْ يَكُـــوْنَا مُفْرَدَيْنِ
فَأَضِفْ حَــتْمًا وَإِلَّا أَتْــبِعِ الَّذِىْ رَدِفْ
“Menurut para
ulama’.... Bila sepasang suami dan istri hanya berdua saja, maka....
rengkuhlah, dan carilah pahala sebanyak-banyaknya (to the point)”
“Dan bila
mana dihadapanmu banyak orang, maka perlihatkanlah mawaddah
warrahmah (saling
menyayangi)nya”
فَارْفَعْ بِضَمٍّ وَانْصِبَنّْ
فَتْحًا وَجُرَّ كَسْرًا كَذِكْرُ اللّـهِ عَبْدَهُ يَسُرْ
وَاجْزِمْ بِتَسْكِــيْنٍ
.............
“Rayulah
dengan mesra, ajaklah untuk bergurau. Setelah keduanya takluk,baru
mulai dengan
dzikir kepada Allah ﷻ supaya keduanya sama-sama merasa tenang
dan nikmat dengan ridlo Allah ﷻ untuk
mendapatkan anak shalih dan shalihah”
بِذَا لِـمُفْرَدٍ مُذَكَّرْ
أَشِرْ بِذِى وَذِهْ تِى تَا عَلَى اْلأُنْـــــثٰى اقْتَصِرْ
“Seorang
laki-laki itu diperbolehkan poligami sampai empat istri, bukan berarti
mengizinkan pelampiasan sexual, akan tetapi hanya merupakan alternatif dari
perzinahan dan pelacuran”.
وَمُفْرَدُا يَأْتِى وَيَأْتِى
جُمْلَةً حَاوِيَــةً مَعْنَى الَّذِىْ سِيْقَتْ لَهُ
“seorang
suami boleh mempunyai istri lebih dari satu, dengan syarat tidak untuk
melampiaskan nafsu birahi, tetapi untuk memperbanyak keturunan yang baik jika
memang mampu”.
وَأَخْبَرُوْا بِاثْـــنَــيْنِ
أَوْ بِأَكْــثَرَا عَنْ وَاحِدٍ كَهُمْ سَرَاةٌ شُعَرَاءُ
“Para alim ulama’
banyak yang mempunyai istri lebih dari satu karena mempunyai tujuan untuk
memperbanyak waladun shalihah yang mampu untuk meneruskan perjuangan dakwahnya”.
وَكُــلُّهَا يَلْزَمُ بَعْدَهُ
صِلَهْ عَلَى ضَمِيْرٍ لَائِـــقٍ مُشْتَمِلَةْ
“Semua
wanita setelah menjalankan pernikahan pada lazimnya memiliki buah hati (anak) yang
mana anak tersebut menjadi tambahnya kasih sayang bagi suami istri, dan
menjadikan kebahagiaan bagi mereka berdua”.
وَالْخَبَرُ الْجُزْءُ الْـمُتِمُّ
الْفَائِدَةْ كَــاللهِ بِرُّ وَالْأَيَادِى شَاهِدَةْ
“Istri itu sebagai motivator utama bagi kesuksesan suami dalam
berjuang di jalan Allah ﷻ sebagaimana Allah ﷻ telah
memberikan kenikmatan pada pasangan suami istri yang ideal”.
وَالْخَبَرُ الْجَامِدُ فَارِغٌ
وَإِنْ يُشْتَقُ فَهْوَ ذُوْ ضَمِيْرٍ مُسْتَكِنْ
“Seorang
yang keras kepala, tidak mau menerima pendapat orang lain, selalu mau menang
sendiri itu tandanya orang bodoh (kosong akal pengetahuannya). Dan orang yang
selalu lapang dada, tahu akan kondisi dan situasi, bisa tampil dengan
fleksibel, itu pertanda orang yang pengetahuannya luas”.
وَلَا يَجُوْزُ اْلإِبْــتِدَاءُ
بِالنَّــكِرَةْ مَالَمْ تُفْدْ كَعِنْدَ زَيْدٍ نَمِرَةْ
“Kita tidak
boleh memutuskan perkara yang belum begitu jelas, sebelum
menegtahui asal
permasalahannya selagi tidak dalam keadaan terdesak.
Seorang
wanita janganlah menerima lamaran laki-laki yang belum jelas identitas atau
nasibnya, selagi tidak dalam keadaan terdesak untuk menghindari maksiat”.
وَهَلْ فَتٰى فِيْكُمْ فَمَا
حِلٌّ لَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الْكِرَامِ عِنْدَنَا
“hai santriwati...!
Adakah di hatimu seorang pemuda pujaan hati? Aku tidakpunya kekasih,padahal
banyak lelaki yang pandai dan ganteng di sekeliling desaku, tapi apa daya
seorang perempuan tak dapat mengutarakan isi hatinya, hanyalah gejolak yang ada
didalam hati”.
وَاْلأَصْلُ فِى اْلأَخْبَارِ
أنْ تُؤَخَّرَ وَجَوَّزُوْا التَّقْدِيْمَ إذْ لَا ضَرَرَ
“Pada
dasarnya seorang adik itu menikah setelah kakaknya, dan adik itu boleh
mendahuli kakaknya bila tidak menjadikan sakit hati dan telah mendapatkan izin
dari kakaknya”.
وَحَذْفُ مَا يُعْلَمُ جَائِزٌ
كَمَا تَقُوْلُ زَيْدٌ بَعْدَمَا عِنْدَكُمَا
“Bagi suami
maupun istri itu boleh memutuskan hubungan bila telah jelas akan cacatnya yang
telah disebutkan dalam hukum syara’, Dari pihak istri boleh mencerai istrinya,
dan boleh memberi khulu’”.
وَفِى جَوَابِ كَيْفَ زَيْدٌ
قُلْ دَنِفْ فَزَيْدٌ اسْتُغْنِيَ عَنْهُ إِذْ عُرِفْ
“Laela
bertanya kepada temannya ”Bagaimana keadaan Zaed kekasihku?” temannya menjawab “Zaed
sedang sakit malarindu, tidak ada yang mampu mengobati kecuali bertemu dengan Laela”.”.
وَغَيْرُ مَاضٍ مِثْلُهُ قَدْ
عَمِلَا إنْ غَيْرُ مَاضٍ مِنْهُ اسْتُعْمِلَا
“Ilmu yang
belumkau pelajari itu bisa dikaji sendiri bilailmu yang pokok telah kau kuasai
serta tekun untuk memperdalamnya (seperti ilmu nahwu, shorof, balaghoh dan
manthiq)”.
وَوَصْلُ مَا بِذِى الْحُرُوْفِ
مُبْطِلُ إعْمَالُهَا وَقَدْيُبْقَى الْعَمَلُ
“Suatu
pekerjaan yang tidak dikerjakan dengan sungguh-sungguh, bahkan dicampur aduk
dengan pekerjaan lain, pastilah hasilnya tidak begitu memuaskan, seperti dalam
belajar, namun ingatan tertuju pada kekasihnya terus”.
وَاَعْطِ لَا مَعْ هَمْزَةٍ
اسْتِفْهَامِ مَا تَسْتَحِقُّ دُوْنَ اْلإسْتِفْهَامِ
“Berilah
kasih sayang yang sama rata pada anak-anakmu. Baik yang pandai, bodoh, yang
cantik, atau yang jelek, tampan atau buruk, toh semua itu amanat dari Allah ﷻ”.
وَجَرِّدِ الْفِعْلَ إذَا
مَا اُسْنِدَا لِاثْــنَــيْنِ أَوْجَمْعٍ كَفَازَ الشُّهَدَاءَ
“Pusatkanlah
pikiranmu pada satu permasalahan, sehingga kau selesaikan dengan sebaik
mungkin, jangan kau campur aduk dengan yang lain, walaupun berpuluh-puluh
bahkan berratus-ratus masalah atau problem yang kau hadapi”.
إنْ مُضْمَرِ اسْمٍ سَابِقٍ
فِعْلًا شَغَلْ عَنْهُ بِنَصْبِ لَفْظِهِ أَوْ الْـمَحَلْ
فَالسَّابِقُ انْصِبْهُ بِفِعْلٍ
أُضْمِرَا حَتْمًا مُوَافِقٍ لِـمَا قَدْ أُظْهِرَا
“Bilamana
seorang wanita mencintai seorang pria, (begitu pula sebaliknya) sedangkan pria
tersebut terlanjur mencintai wanita lain, maka bagi pria yang mempunyai dua
kekasih itu hendaknya memperhatikan dan menyayangi yang pertama sebagaimana
yang kedua”.
وَفَصْلُ مَشْغُوْلٍ بِحَرْفِ
جَرٍّ أَوْ بِــإِضَافَةٍ كَوَصْلِ يَجْرِىْ
Perpisahan diantara kita itu tidak akan menggoyahkan bagi
kesetiaan janji kita"
berdua, walaupun jauh di mata namun dekat di hati"
وَعُلْقَةٌ حَاصِلَةٌ بِتَابِعٍ
كَعُلْقَةِ بِنَفْسِ اْلإِسْمِ الْوَاقِعِ
“Cinta kitayang
disambung dengan surat menyurat, bagi diri ini samalah artinya" dengan
kehadiranmu, karena kehadiran suratmu itu bagai bayangan wajahmu yang hadir di
depanku ”.
إنْ عَامِلَانِ اقْتَضَيَا
فِى اسْمِ عَمَلْ قَبْلُ فَالْوَاحِدُ مِنْـهُمَا الْعَمَلْ
وَالثَّانِى أَوْلَى عِنْدَ
أَهْلِ الْبَصْرَةِ وَاخْتَارَ عَكْسًا غَيْرَهُمْ ذَا أُسْرَةْ
“Bila ada
dua orang pria mencintai seorang gadis, maka bagi gadis itu harus memilih salah
satunya. Boleh memilih yang pertama, karena cinta pertama itu sungguh indah
untuk dikenang”.
وَأَعْمِلِ الْـمُهْمَلَ
فىِ ضَمِيْرِمَا تَنَازَعَاهُ وَالْــتَــزِمْ مَا اْلتُـــزِمَا
“Berilah
foto pada pria yang tidak kau pilih dengan secara baik, supaya kedua pria
tersebut tidak terjadi persengketaan”.
لَا أَقْعُدُ الْجُبْنُ عَنِ
الْهَيْــجَاءِ وَلَوْ تَوَالَتْ زُمَرَ اْلأَعْدَاءِ
“Aku takkan
putus asa dalam meraih cita-cita sejati, walaupun cobaan datang silih berganti
menghadangku. Aku tidakakan duduk bertopang dagu karena pertempuran, meski
menghadapi gelombang musuh yang datang silih berganti”.
وَكُلُّ وَقْتٍ قَابِلٌ ذَاكَ
مَا يَقْبَلُهُ الـمَكَانُ إِلَّا مُبْــهَمًا
“Setiap
waktu bila digunakan seefesien mungkin, maka kita akan sadar apa arti hidup ini
yang sesungguhnya, dan waktu tidak akan berarti bila digunakan seenaknya
saja,kecuali hanya berlalu dengan tanpa arti”.
كَرُبَّ رَجِيْنًا عَظِيْمِ
اْلأَوَّلِ مُرَوَّعِ الْقَلْبِ قَلِيْلِ الْحِيَلِ
“Sebagai kreatifitas santri yang menjunjung tinggi integritas, agung
cita-citanya, tenang hatinya, sedikit sifat dengki serta congkaknya hendaklah
selalu mengharapkan Ridlo dan Rahmat Allah ﷻ dan
selalu menerima apa adanya dari Allahﷻ,”.
وَوَصْلُ أَلْ بِذَا الْـمُضَافِ
مُغْتَفِرْ إِنْ وَصَلَتْ بِالثَّـــانِى كَالْجُعْدِ الشَّعَرْ
أَوْ بِالَّذِىْ لَهُ أُضِيْفُ
الثَّـــانِى كَـــزَيْدٍ نِالضَّارِبُ رَأْسِ الْجَانِى
“Pertemuan
seorang lelaki (yang akan melamar) dengan perempuan itu diperbolehkan, bilamana
perempuan tersebut bersama dengan seorang atau dua orang muhrim”.
وَرُبَّـــمَا أَكْسَبَ ثَانِ
أَوَّلًا تَـــأْنِـــيْــثًـــا كَانَ لِحَذْفٍ مُوْهَلًا
“Terkadang
watak serta tabiat seseorang itu cepat sekali menular pada temannya, demikian
itu bila temannya tersebut tidak kokoh dalam pendirian dan kurang akan
keistiqomahan hatinya”.
وَلَا يُضَافُ اسْمٍ بِهِ
اتَّـــحَدْ مَعْنَى وَأَوِّلْ مُوْهِمًا إِذَا وَرَدْ
“Seorang
santri janganlah berteman dengan hanya seorang saja untuk mengutarakan segala
sesuatu permasalahan, sehingga tak menghiraukan teman yang lain. Bila memang
mempunyai teman akrab, hendaknya saling menjaga antara satu sama lain”.
وَلَا تُضِفْ لِـمُفْرَدٍ
مُعَرَّفِ أَيَّـــا وَإِنْ كَـــرَّرْتَـــهَا فَأَضِفِ
“Janganlah kau mencintai seseorang dengan sepenuh hati sebelum mengetahui
persis akan sifatnya, dan apabila kau telah memahami akan isi hatinya, barulah
kau mencintainya dengan kasih sayang sejati berdasarkan norma-norma hukum Islam”.
وَمَا يَلِـــىْ الْـمُضَافَ
يَــأْتِى خَلَفَا عَنْهُ فِى اْلإِعْرَابِ إِذَا مَا حُذِفَا
“Santri itu
menjadi generasi penerus bagi perjuangan para ulama’ di muka bumi ini, di kala ulama’
dipanggil untuk menghadap keharibaan Allah ﷻ”.
وَأَلِّفًا سَلِّمْ وَفِى
الْـمَقْصُوْرِ عَنْ هُذَيْلِ نِانْـــقَــلَابُـــهَا يَاءً حَسَنْ
“Orang yang lurus perilakunya sesuai dengan kriteria hukum syari’at,
pastilah akan selamat dunia akhirat. Dan orang yang selalu berfikir pendek
serta kurang hati-hati dalam bersikap, tentu akan terombang-ambing dengan
keadaan sekitarnya”.
وَجُرَّ
مَا يَــتْبَعُ مَا جُرَّ وَمَنْ رَاعِى فِى اْلإتْــبَاعِ الْـمَحَلِّ فَحَسَنْ
“Orang yang
selalu mengikuti jejak sifat temannya yang tidak baik, pasti akan terbawa sifat
temannya tersebut bila tidak benar-benarpandai dalam menjaganya. Dan bila
pandai membawa diri, bahkan bisa meluruskan sifat temannya, maka itu lebih
terpuji”.
وَاجْرُرْ
أَوْ انْصِبْ تَابِعَ الَّذِى انْخَفَضْ كَمُبْـــتَغِى جَاهٍ وَمَالًا مَنْ
نَـهَضْ
“Rendahkanlah atau sadarkanlah orang yang selalu mengikuti hawa
nafsu yang rendah seperti orang yang selalu mencari derajat dan pangkat serta
haus untuk mereguk harta benda”.
وَكُـلُّ
مَا قُرِّرَ لِاسْمٍ فَاعِلٍ يُعْطَى اَسْمَ مَفْعُوْلٍ بِلَا تَفَاضُلٍ
“Setiap orang yang melakukan suatu perbuatan, maka akan mendapat
hasil yang dikerjakannya”.
وَزَكِّـــهِ
تَزْكِـــيَـــةً وَأَجْمَلَا أَجْمَالَ مَنْ تَجَمُّلًا تَجَمَّلًا
وَاسْتَعِذِ
اِسْتِعَاذَةً ثُمَّ أَقِمْ إقَامَةً وَغَالِـبًا ذَا الـــتَّـا لَزِمْ
“Sucikanlah hatimu, hiasilah dirimu seperti orang yang pandai
menghias dirinya dengan budi pekerti yang luhur.dan mintalah pertolongan serta
lindungan pada Yang Maha Bijaksana, apabila mampu mengerjakannya Insya Alloh ﷻ akan tetap
mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat”.
صِفَةُ نِاسْتُــحْسِنَ
جُرَّ فَاعِلٍ مَعْنَى بِـهَا الـمُشْبِـهَةِ اسْمِ الْفَاعِلِ
وَصَوْغُهَا
مِنْ لَازِمٍ لِحَاضِرٍ كَظَاهَرَ الْقَلْبِ جَمِيْــلِ الْحِيَـلِ
“Karakteristik santri yang selalu merendahkan diri, mampu
menjadi figur bagi orang lain, memegang teguh loyalitas, stabil suci hatinya dan
baik lahiriyahnya”.
وَعَمَلُ
اسْمٍ فَاعِلِ الْـمُعَدَّى لَهَا عَلَى الْحَدِّ الَّذِى قَدْ حُدَّا
“Usahanya orang kreatif dan selalu optimis akan keberhasilannya,
pasti akan mendapatkan hasil yang gemilang dengan apa yang diusahakannya”.
كَـــلَنْ
تَرَى فِى النَّاسِ مِنْ رَفِـــيْــقٍ أَوْلَى بِهِ الْفَضْلُ مِنَ
الصِّدِّيْــقِ
“Orang yang
selalu melihat temannya dengan rasa kasih sayang, maka lebih utama dari pada
orang yang jujur”.
فَالنَّعْتُ
تَابِعٌ مُــتِمُّ مَا سَبَـقَ بِوَسْمِهِ أَوْ وَسْمِ مَا بِهِ اعْتَلَقْ
“Sifat
seorang anak itu tergantung pada orang tua yang mendidiknya, baik melihat
tingkah laku orang tua sendiri maupun orang disekelilingnya”.
وَلَا
تَعُدْ لَفْظُ ضَمِيْرٍ مُــتَّصِلْ إلَّا مَعَ اللَّفْظِ الَّذِى بِهِ وُصِلْ
“Dalam
membuat karya tulis, risalah maupun surat, janganlah mengulang kata-kata yang
telah disebutkan, supaya tidak terkesan kurang sistematik,kecuali untuk
menjelaskan yang sulit dimengerti”.
فَاعْطِفْ
بِوَاوٍ سَابِقَا وَ لَاحِقًا فِى اْلحُكْمِ أَوْمُصَاحِبًا مُوَافِقًا
“Pupuklah jiwa kesetia kawanan dengan saling mengerti satu sama
lain, seia sekata dalam keadaan suka maupun duka”.
وَابْنِ
الْـمُعَرَّفَ الْـمُنَادَى الْـمُفْرَدَا عَلَى الَّذِى فِى رَفْعِهِ قَدْ عُـهِدَا
“Pupuklah
rasa kepercayaan diri dalam menghadapi ujian ataupun testing berdasarkan
keluhuran jiwa tanpa rasa grogi dan tak terpengaruh dengan contekan”.
وَاْلأَكْـــثَرُ
اللَّهُمَّ بِالتَّعْوِيْضِ وَشَذَّ يَا اللَّهُمَّ فِى قَرِيْضِ
“Hendaklah kita selalu memperbanyak doa kepada Allah ﷻ dalam
menggantungkan usaha yang telah kita lakukan (era et labora), dan tidak
menggunakan doa tersebut untuk perkara yang tidak semestinya”.
وَأَلَّفَا
قَبْـلَهَا مُؤَكَّــدَا فَعْلًا إِلَى نُوْنِ اْلإِنَــاثِ أُسْنِدَا
“Bilamana kau mencari seorang perempuan, sebelum kau utarakan
isi hatimu, tumbuhkanlah rasa kepercayaan pada perempuan tersebut dengan
perilaku yang terpuji”.
وَارْدُدْ
حَذَفْــتَــهَا فِى الْوَقْفِ مَا مِنْ
أجْلِهَا فِى الْوَصْلِ كَـانَ عُدِمَا
“Ambillah
kembali anak perempuanmu ketika dicerai oleh suaminya dalam posisi yang benar,
karena betapa sakitnya hati seorang istri ketika mengenang kebersamaannya
dengan suami yang semuanya itu hanya tinggal kenangan belaka”.
فَأَلِفُ
التَّـــأْنِـــيْثُ مُطْلَقًا مَنَعْ صَرْفَ الَّذِى حَوَاُه كَيْفَمَا وَقَعْ
“Dalam
kriteria hukum syariat Islam, seorang istri tidak boleh menasarufkan
(membelanjakan) harta suaminya, baik harta itu berasal dari miliknya sendiri
atau milik bersama”.
وَمَنْعُ
عَدْلٍ مَعَ وَصْفٍ مُعْتَبَرْ فىِ لَفْظِ مَثْنَى وَثُـــلَاثَ وَأُخَرْ
“Pada umumnya orang yang mempunyai istri lebih dari satu tidak
dapat berbuat adil seratus persen kecuali orang yang benar-benar menjalankan
syariat agama”.
وَاْلأَمْرُ
إنْ كَانَ بِغَيْرِ افْعَلْ فَلَا تَــنْصِبْ جَوَابَهُ وَجَزْمَهُ اقْبَلَا
“Seorang pemimpin bila tidak melakukan apa yang diperintahkannya,
pasti tidak akan dipatuhi, bahkan sering diremehkan oleh anak buahnya, karena
segala sesuatu dilihat dari realitasnya, tidak dengan pangkat, derajat maupun
perkataan”.
وَالْفِعْلُ
بَعْدَ الْفَاءِ فِى الرَّجَا نُصَبْ كَـــنَصْبِ مَا إِلَى التَّــمَنَّى
يَـــنْـــتَصِبْ
“Pekerjaan yang dilakukan semaksimal mungkin haruslah disertai
dengan roja’ (mengharapkan pertolongan Alloh ﷻ) supaya tidak
putus asa ditengah-tengah usahanya, sebagaimana orang yang selalu mengharapkan
anak cucunya menjadi baik dengan mendoakan dan memasrahkan diri pada Allah ﷻ”.
وَقَدْ
يَلِــيْــهَا اسْمٌ بِفِعْلٍ مُضْمَرٍ عُلِّقَ أوْبِظَاهِرٍ مُؤَخَّرِ
“Menurut kriteria hukum islam,seorang wanita itu kadang-kadang
boleh kawin sirri (kawin gantung) asal memenuhi syarat. Akan tetapi, untuk
menghilangkan asumsi-asusmsi dari masyarakat yang tidak di inginkan,makalebih
baik dengan cara nikah jahr (mengadakn resepsi) supaya jelas bahwa keduanya
telah terjalin ikatan yang sah”.
كَـــذَا
الْغِنَى عَنْهُ بِأَجْنَـــبِـىٍّ أَوْ بِمُضْمَرٍ شَرْطٌ فَرَاعِ مَا رَعَوْا
“Jadilah
orang yang teguh dalam menentukan sikap, tidak tergoyah oleh keadaan dan
rayuan, serta mantap dengan kemampuan dan milik sendiri tanpa mengharapkan
sesuatu dari orang lain dan selalu menjaga norma-norma susila”
عَـلَامَةُ
التَّــأْنِــيْثِ تَاءٌ أَوْأَلِفٌ وَفِى اَسَامِ قَدَّرُوا التَّا كَــالْكَـــــتْفِ
“Sifat
perempuan itu pada umumnya lemah lembut dan keras dalam memperoleh suatu
keinginan (ambisi). Dan para ahli psikologi telah melakukan diagnosis untuk
mengetahui rahasia sifat kelembutan tersebut”.
وَيُعْرَفُ
التَّــقْـدِيْرُ بِالضَّمِــيْرِ وَنَــحْوِهِ كَــالرَّدِّ فِى
التَّصْغِــيْرِ
“Dan
ternyata dalam diagnosis tersebut ditemukan suatu versi bahwa kelembutan
seorang perempuan bisa diraba melalui hati,pandangan dan tingkah lakunya,
karena pada kelembutan seorang perempuan hanyalah hiasan”.
وَأَلِفُ
التَّــأْنِــيْثِ ذَاتَ قَصْرٍ وَذَاتَ مَدٍّ نَحْوُ أُنْــثَى الْغَرِّ
“Langkah wanita dalam mencapai karirnya sangatlah terbatas
dibanding dengan langkah pria, dan wanita bila sudah berhasil mencapai karir di
dalam usahanya, itulah wanita yang menjadi sinar dunia”.
وَسَكِّنِ
التَّــالِى غَيْرَ الْفَتْحِ أَوْ خَفِيْفَهُ فَكُـــــلَّا قَدْ رَوَوْا
“Karena wanita di ibaratkan pohon yang bengkok, maka ajaklah
istrimu untuk hidup dalam ketenteraman dengan cara meluruskan segala perilaku
yang salah dan selalu memaafkan segala kesalahan serta menuntunnya ke jalan yang
benar”.
وَفُعَّـــلٌ
لِفَاعِلٍ وَفَاعِلَهُ وَصْفَـــيْنِ نَحْوُ عَاذِلٌ وَعَاذِلَةْ
“Putra putri saleh salihah tidak lain hanyalah milik pasangan
suami istri yang saleh dan salihah pula serta memiliki sifat yang terpuji”.
وَمِثْــلَهُ
الْفُعَّالُ فِيْـمَا ذُكِرَ
“Begitu juga
anak-anaknya semua bisa berhasil dan mampu memperjuangkan agama, itupun pasti
dari jerih payah pasangan saleh salihah”.
وَذَانِ فِى الْـمُعَلِّ لَا مًا نَــذَرَا
“Dan jarang
sekali anak salih salihah yang mampu menjadi penegak agama itu dihasilkan dari
pasangan yang tidak baik perilakunya”.
وَقَلَّ فِيْمَا عَيْــنُهُ الْيَا مِنْـهُمَا
“Dan di
zaman globalisasi ini jarang sekali pasangan yang melakukan Sunnah Nabi dengan
memperbanyak anak, karena pada umumnya mengikuti program KB”.
وَأَلِفُ
التَّـــأْنِــيْثِ ذُو الْقَصْرِ مَتَى زَادَ عَلَى اَرْبَعَةٍ لَنْ
يَــثْــبُــتَا
“Akal
pikiran wanita itu sangatlah sempit, 1 % dibandingkan dengan akal pikiran
pria yang
sampai 99 % di ibaratkan luasnya laki-laki boleh memiliki istri empat,
sedangkan wanita hanya boleh memiliki satu suami saja”
وَحَذْفُ
يَا الْـمَنْقُوْصُ ذِى التَّـــنْوِيْنِ مَا لَمْ يُــنْصَبْ أَوْلَى مِنْ ثُبُوْتِ
فَاعْلَمَا
“Istri yang kurang ajar dan tak memenuhi haknya sebagai istri karena mempunyai simpanan
laki-laki lain, sedangkan sang suami tidak mampu mengatasi dan tidak bisa
di nasehati oleh siapa saja.bagi sang suami lebih baik mencerai dari pada tetap
bersama dalam kancah kegundahan, keributan, kesusahan dan kekhawatiran. Dan
perceraian itu merupakan alternatif terakhir”.
وَأَيُّ
فِعْلٍ أَخِرٍ مِنْهُ اَلِفْ أَوْ وَاوٍ أَوْيَاءٍ فَمُعْـــتَــلُّ عُرِفْ
“Perilaku seorang hamba akan baik. Tapi ada perilaku yang cacat
bila itu disebabkan karena 3 (tiga) hal penyakit hati yaitu riya', sombong dan
ujub’
وَغَيْرُ
ذِى التَّــنْوِيْنِ بِالْعَكْسِ وَفِى نَحْوِ مُرٍ لُزُوْمُ رَدِّ الْيَا
اقْـــتُــفِى
“Dan
bilamana kekurangan sang istri bisa ditangani oleh suaminya sendiri dengan
nasehat dan tidak mempunyai simpanan, maka selesaikan dengan cara baik-baik dan
hindarilah yang merugikan pihak keduanya serta anak-anaknya”.
وَاسْمًا
اَتَى وَكُـــنْيَهُ وَلَقَبَا وَأَخِّرَنْ ذَا إِنْ سِوَاهُ
“Memanggil
nama seseorang hendaklah dengan menyebut nama asalnya, ataupun nama samaran
yang pantas (kun-yah). Dan janganlah memanggil dengan nama samaran yang tidak
pantas (laqob), bila memang masih ada nama asal”.
وَفُـــكَ
أَفْعِلْ فِى التَّــعَجُبِ الْــــتُــزِمْ وَالْـــــتُـــزِمَ اْلإِدْغَامَ
أَيْضًا فىِ هَلُمّْ
“Hilangkanlah rasa kesombongan hatimu setelah kau merasa
menguasai ilmu nahwu shorof (sintak mortologi) yang ada dalam Alfiyah Ibn
Malik. Namun satukanlah hatimu dengan Alfiyah tersebut untuk merealisasikan
dalam kitab-kitab fikih, karena tiada lain tujuannya untuk
mengontekstualisasikan hukum-hukum fikih di bumi tercinta yang sesuai dengan
pancasila”.
وَلَا
تُــمِلْ مَا لَمْ يَنَــلْ تَمَكَّــنَا دُوْنَ سِمَاعِ غَيْرَهَا وَغَيْرَنَا
“Janganlah
kau mencintai seseorang disebabkan seringnya bertemu (tresno jalaran soko
kulino), karena pada umumnya cinta yang berdasarkan nafsu birahi seringnya
berjumpa menjadikan hal-hal yang tidak diinginkan, dan lebih sakit hati bila
kasihnya tak sampai hingga harus berpisah”.
وَإِنْ
يُفَرَّعْ سَابِقٌ إِلَّا لِـمَا بَعْدُ يَكُنْ كَمَا لَوْ إِلَّا عُدِمَا
“Dalam diagnosis ahli psikologi dalam persoalan ingatan
memberikan sebuah konkuler/bukti bahwasanya satu hafalan bila tidak
diulang-ulang, bahkan menambah hafalan yang baru, maka akan hilang 5% dalam
tempo waktu satu jam bahkan lama-kelamaan akan hilang bagai belum dihafalkan”.
وَوَصْلُ
ذِى الْهَاءِ أَجِزْ بِكُـــلِّ مَا حَرِّكَ تَحْرِيْكَ بِنَاءٍ لَزِمَا
“Sang suami
itu mempunyai hak dan wewenang pada sang istri dalam mengatur aktifitas harta
dan segala yang dimiliki istri,tentunya dengan didasari kasih sayang”.
وَوَصْلُهَا
بِغَيْرِ تَــحْرِيْكِ بِــنَا أُدِيْمَ شَذَّ فِى الْـمُدَامِ اسْتُحْسِنَا
“Dan bagi
sang istri tidak mempunyai hak dan wewenang dalam mengatur aktifitas, harta dan
lainnya kepada sang suami karena merupakan dosa besar”
وَحَرْفُ
اْلإِسْتِعْلَاءِ يَكُـــفُّ مُظْــهَرًا مِنْ كَسْرٍ أَوْ يَا وَكَــذَا تَـــكُــفُّ
رَا
“Orang yang mempunyai
sifat sombong dan angkuh itu akan tercegah kebebasan bergaul, baik dengan sanak
kerabat maupun dengan masyarakat sekelilingnya”.
وَلَا تُــمِلْ
لِسَبَبٍ لَمْ يَــتَّــصِلْ وَالْــكَــفُّ قَدْ يُوْجِبُهُ مَا يَنْفَصِلْ
“Dan janganlah
kau mencintai seseorang yang sekiranya orang tersebut tak mungkin dapat kau
miliki, baik dalam pernyataan orang tersebut atau dari temannya, karena akan
menjadikan sakit hatimu saja”.
وَفِعْلُ
أَمْرٍ وَمُضِيٍّ بُـــنِـــيَا وَأَعْرَبُوا مُضَارِعًا إنْ عَرِيَا
مِنْ نُوْنِ
تَوْكِيْدٍ مُبَاشِرِ وَمِنْ نُوْنِ إِنَاثٍ كَـــيَرُعْنَ مَنْ فُتِنْ
“Sosok
muslim sejati yaitu yang mampu mempertahankan iman dan taqwanya dalam
pergolakan dunia modern, konsisten dengan ilmu yang telah dipelajari, mampu
menggunakan ilmunya sesuai dengan situasi dan kondisi tanpa melanggar kriteria
hukum juga mampu menepis gejolak jiwa”.
وَفِى اخْـــتِـــيَارِ
لَا يَجِـــيْئُ الْـمُتَّصِلْ إِذَا أَتَى اَنْ يَـــجِــــيْئَ الْـمُــتَّصِلْ
“Janganlah mencari suatu perkara yang sukar, kalau memang yang
mudah sudah mencukupi sesuai dengan hadits Nabi “yassiru wala tu’assiru”.
وَاَلْعِ
إِلَّا ذَاتَ تَوْكِــيْدٍ كَـــلَا تَمْرُرْ بِــهِمْ إِلَّا الْفَــتَى إِلَّا
الْعُلَا
“Dan bila mana bahan yang telah dipelajari diulang-ulang terus,
sehingga ingatannya kuat/tajam, Insya Allah akan selalu membekas didalam
ingatan”.
وَجُمْلَةٌ
أَوْ شِبْــهُــهَـا الَّــذِىْ وُصِلْ بِهِ كَمَنْ عِنْدِى الَّــذِى ابْـــنُهُ
كُـــفِلْ
“Anak
laki-laki satu atau banyak, kalau memang benar-benar anaknya sendiri (bukan
hasil adopsi atau hasil zina),itu tetap mendapat warisan”.
وَكَـــذَاكَ
حَذْفُ مَا بِوَصْفٍ خُفِضَا كَـــأَنْتَ قَاضٍ بَعْدَ أَمْرٍ مِنْ قَضَى
“Sebagai
seorang hakim hendaklah menolak pemberian orang lain (suap) yang menjadikan
rendahnya derajat dan tujuan apabila menghukum suatu perkara, hatinya tidak
berat sebelah”.
وَلَا يَكُــوْنُ
اسْمُ زَمَانٍ خَـــبَرًا عَنْ جُــثَّــةٍ وَإِنْ يُفِدْ فَأَخْبِرَا
“Seorang
suami tidak boleh menikah dengan saudara kandungnya sang istri secara bersamaan,
kecuali bila sang istri telah meninggal dunia”.
وَنَحْنُ
عِنْدِى دِرْهَمٌ وَلِـــى وَطَرْ مُلْتَـــزَمٌ فِيْهِ تَقَدُّمُ الْخَبَرْ
“Seorang
muslim yang sudah mampu dalam harta dan perjalanannya ke Makkah, serta tidak
terhalang oleh sesuatu, maka wajib baginya untuk mendahulukan hajinya”.
وَافْـــتَحْ
مَعَ الْـمَعْطُوْفِ إنْ كَرَّرْتَ يَا وَفِى سِوَى ذَلِكَ بِالْــكَسْرِ ائْـــتِــنَا
“Kajilah
terus ilmu yang telah kau ketahui dengan cara musyawarah, Insya Allah akan
terbuka cakrawala ilmu yang luas. Dan bila ilmu yang kau ketahui tidak digali
terus, maka akan terpendam dalam-dalam”.
وَيُــنْــدَبُ
الْـمَوْصُوْلُ بِالَّذِى اشْتَـــهَرْ كَبِئْرَ زَمْزَمَ يَـــلِـــى وَمَنْ حَفَرْ
“Disunahkan
bersilaturrahim kepada sanak saudara, baik saudara dari arah nasab ataupun
kerabat, sebagaimana disunahkannya meminumair zam-zam dan ziarah ke hijir
Isma’il”.
وَإِنْ تُرِدْ
بَعْضَ الَّذِى مِنْهُ بُـــنِى تُـضِفْ إِلَيْهِ مِثْلَ بَعْضٍ بَـــيِّنْ
“Bila kau
menginginkan sebagian ilmu melekat dalam sanubari, maka pusatkanlah pikiranmu
dalam satu tujuan (pelajaran) dan sandarkanlah hatimu selalu pada Allah,
sebagaimana para Kyai yang telah mampu mengantongi berbagai ilmu dengan
ketekunannya”.
وَقَائِلٌ
وَاعَبْدِيَا وَاعَبْدَا مَنْ فِى النِّـــدَا الْيَا ذَا سُكُــوْنٍ أَبْدَى
“Bagi orang
yang ditinggal mati oleh orang tua atau saudaranya,hendaklah mengucapkan
istirja’ dan mendoakannya, jangan sekali-kali mengucapkan seperti orang
jahiliyah dengan memanggil-manggil si maut”.
وَالْفَتْــحُ
نَزْرٌ وَصْلُ التَّــا وَاْلأَلِفْ بِمَنْ بِـــإِثْرِ ذَا بِنِسْوَةٍ كَـــلِفْ
“Sedikit sekali
orang yang ter buka hatinya untuk mendalami ilmu agama dan umum, sementara
hatinya selalu tertuju pada cowok/cewek, kecuali hanya sebagian kecil (ilmu) yang
diperolehnya”
فَذُو الْبَــيَـانِ
تَابِعٌ شِــبْهُ الصِّفَةْ حَقِيْقِيَّةُ الْقَصْدِ بِهِ مُنْكَشِفَةْ
“Orang
wawasan ilmunya luas, pada umumnya mampu menerapkan ilmunya sesuai dengan
kondisi serta mudah memahami pendapat orang lain dan selalu berusaha menguak
cakrawala ilmunya yang masih terselip tabir kebodohan”.
وَاقْرُنْ
بِفَا حَتْمًا جَوَابًا لَوْ جُعِلْ شَرْطًا لِإِنْ أَوْ غَيْرِهَا لَمْ يَــنْـجَعِلْ
“Menjawab
salam itu hukumnya wajib (fardlu ‘ain) bila yang ada hanya satu orang, namun
bila yang diberi salam itu orang banyak,maka hukumnya fardlu kifayah”.
وَالْعِلْمَ
احْكِيَـــنَّهُ مِنْ بَعْدِ مَنْ إِنْ عَرِيَتْ مِنْ عَاطِفٍ بِـهَا اقْـــتَرَنْ
“Ceritakanlah
riwayat para Nabi, Ulama’ atau pemuka masyarakat setelah mereka meninggal
dunia, agar supaya menjadi suri tauladan bagi generasi penerusnya”.
وَاْلإِسْمُ
قَدْ خُصِّصَ بِالْجَرِّ كَمَا قَدْ خُصِّصَ اْلفِعْلُ بِأَنْ يَنْجَزِمَا
“Janganlah
kau seperti kalimat isim yang mau mengerjakan sesuatu yang rendah menurut
kacamata isim, namun berpegang teguhlah seperti kalimat fiil yang bisa hidup
istiqomah dan tak mau mengerjakan sesuatu yang tidak semestinya”.
فَقَدْ يَـــــكُـــوْنَانِ
مُــنَـــكَّــرَيْنِ كَمَا يَـــكُــوْنَانِ مُعَرَّفَــــــــيْــنِ
“Terkadang
pasangan suami istri itu dipertemukan secara kebetulan sama-sama tidak
mengenalnya, dan terkadang keduanya sudah mengenal sejak kecilnya”.
فَمَنْعُهُ
حِيْنَ يَسْتَوِى الْجُرْآنِ عُرْفًا وَنُـــكْرًا عَادِمَــيْى بَـــيَانِ
“Seorang
laki-laki tidak diperbolehkan memperistri dua perempuan kakak beradik sekaligus,
baik sudah diketahui bahwa itu kakak beradik ataupun belum”.
وَخُفِّفَتْ
إِنْ فَقَلَّ الْعَمَلِ وَتَـــلْزَمُ اللَّامُ إِذَا مَا تُــهْمَلُ
“Orang yang terkena vonis penjara, bila tak banyak tingkah dalam meja hijau ataupun dalam tahanan, maka hukumannya kan diringankan”.
<---SELESAI--->
Selanjutnya pada Syair Alfiyah Ibnu Malik
PERMATA PENUH CNTA
Subhanallah arti maknanya
BalasHapusIjin share ya gan
BalasHapusالحمد للّه
BalasHapusjidd
BalasHapusAssalamualaikum wr.wb. ini menyangkut ilmu Islam mohon setiap penulisan istilah2 diperhatikan dengan baik.
BalasHapuskoreksi bukan khusnul khatimah tp husnul khatimah"
hooh
HapusMantap
BalasHapusSubhanallah 😊
BalasHapusLove Ibnu Malik... ❤😘😍☺
BalasHapusSubbhanallah
BalasHapusSubbhanallah
BalasHapusmudah2an kita dapat berkahnya
BalasHapusIzin ambil ilmunya
BalasHapusSubhanalloh❤️❤️❤️
BalasHapusIzin ambil ilmunya
MasyaaAllah. Maaf, jika kita ingin tau maroji' atau sumber dari semua kalam ini dimana ya? Atau ingin tau siapa yang berijtihad maknanya pertama kali?
BalasHapusSubhanalloh alfiyah is the best🤘🤘🤘
BalasHapusSubhanallah.. penuh makna
BalasHapusMasya Allah tabarokallah , smoga Allah memberi ilmu yg lebih
BalasHapusIzin share kang🙏
BalasHapusBias lebih banyak lagi?
BalasHapusAlfiyah is the best,
BalasHapusIzin share kang🙏
seribu kasih sayang
BalasHapus